Kamis, 26 Januari 2017

CompTIA Cloud+ Bagian 3 - Struktur Network dan Konfigurasinya untuk Cloud, Topologi dan Port Umum

Dalam perancangan Cloud, kita harus sedikit faham tentang jaringan dan konfigurasinya. Memang tidak harus semengerti orang jaringan yang faham seluk beluk mulai dari perancangan, pembangunan hingga konfigurasi setiap alat-alat jaringan. Tapi, ada beberapa hal dasar dari network yang sebaiknya kita (yang sedang belajar cloud) pelajari. Terbukti dari sertifikasi CompTIA Cloud+ terdapat beberapa bahasan network yang diujikan. Juga, dari course CompTIA Cloud+ yang saya ikuti di Cybrary, terdapat materi jaringan yang tentunya berkaitan dengan cloud. Langsung saja ke rangkuman materinya yaa.

Topologi Network
Bahan bacaan:
https://en.wikipedia.org/wiki/Network_topology
http://www.studytonight.com/computer-networks/network-topology-types

  • Ada beberapa macam topologi jaringan, diantaranya Bus, Ring, Mesh, Star dan Tree.
  • Beberapa LAN yang tergabung, berubah menjadi sebuah WAN.
  • Topologi Bus
Topologi bus, merupakan topologi yang terdiri dari satu kabel inti (yaitu coaxial) yang masing-masing PC terhubung ke kabel inti tersebut dengan konektor BNC. Di awal dan akhir kabel inti terdapat terminator untuk menghentikan sinyal. Bayangkan sebuah pipa besar yang lurus, yang dimana pada pipa tersebut terdapat sambungan ke beberapa pipa yang lebih kecil yang mengarah ke bawah ke masing-masing keran.
Topologi bus mengalirkan data dalam satu arah. Lebih irit dalam hal biaya. Digunakan pada jaringan kecil. Mudah dimengerti dan mudah dikembangkan dengan menggabungkan dua kabel secara bersama. Namun, kabel memiliki batas jarak yang bisa digunakan. Lebih lambat dibanding topologi ring, dan jika kabel rusak maka seluruh jaringan akan jatuh.
  • Topologi Ring
Pada topologi ring, aliran kabel terhubung dari PC 1 ke PC 2, PC 2 ke PC 3, PC 3 ke PC 4 begitu seterunya hingga yang terakhir (PC N) terhubung ke yang pertama (PC 1). Sehinga berbentuk seperti cincin.
Topologi ring juga mengirim data dalam satu arah. Namun bisa dijadikan dua arah dengan menambah ring lagi, yang kemudian disebut sebagai dual ring topology. Tetapi, troubleshooting sulit dilakukan pada topologi ring. Untuk menambah atau mengurangi PC akan mengganggu aktifitas jaringa. Ditambah, jika salah satu PC down maka seluruh jaringan akan down.
  • Topologi Mesh
Pada topologi mesh, jaringan menggunakan koneksi point-to-point ke node atau device lainnya. Setiap device terhubung ke device yang lain. Sehingga akan terlihat sedikit berantakan jika terdapat banyak PC. Topologi mesh terbagi menjadi dua, yaitu partial mesh topology  dan full mesh topology. Full mesh topology menghubungkan setiap device ke semua device yang lain. Sedangkan pada partial mesh terdapat beberapa device yang hanya terhubung ke 2 atau 3 device.
Keuntungan topologi mesh adalah, setiap koneksi dapat menanggung load datanya masing-masing. Merupakan jenis topologi yang robust (kuat), mudah dalam diagnosa problem dan menyediakan fitur keamanan dan privasi yang lebih. Namun sulit dalam instalasi dan konfigurasinya. Biaya juga lebih mahal dan membutuhkan banyak kabel.
  • Topologi Star
Topologi star merupakan jenis topologi yang paling banyak digunakan (menurut saya). Kenapa? Karena orang-orang sih bilangnya gitu (ehh). Kelebihannya, mudah dalam troubleshooting, mudah dalam instalasi dan konfigurasi, hub/switch dapat ditingkatkan (upgrade) dengan mudah dan jika ada device yang rusak maka yang lain tidak akan terpengaruh. Namun dalam instalasinya biaya yang diperlukan cukup mahal karena harus membeli hub/switch. Performa juga ditentukan oleh hub/switch yang digunakan. Ditambah, jika hub/switch yang rusak maka seluruh jaringan akan rusak.
Pada topologi star, setiap device terhubung ke sebuah perangkat penghubung yang menyalurkan koneksi, yaitu hub/switch. Sehingga alurnya seakan-akan mengarah ke tengah jaringan, seperti bintang (star). Walaupun pada kenyataannya hub/switch bisa kita tempatkan dimana saja.
  • Topologi Tree
Topologi tree ini seperti akar, dimana ada sebuah device yang terhubung ke beberapa device yang lainnya. Kemudian beberapa device tersebut juga terhubung ke beberapa device lainnya seperti turunan atau hubungan hirarkis. Kelebihan topologi tree adalah, mudah dalam pengaturan dan perawatan, mudah dalam deteksi kesalahan dan ekspansi nodes dapat dilakukan dan mudah. Kekurangannya, membutuhkan biaya yang cukup mahal, cabling yang agak ribet, semakin banyak node maka semakin sulit perawatan dan jika node tengah down maka node di bawahnya rusak semua.


Tipe Network

Intranet

  • Network yang bersifat private alias pribadi.
  • Bisa juga disebut isolated network atau network yang terisolasi.
  • Dibuat oleh perusahaan (atau kelompok yang lainnya) untuk menjadi host bagi resource internal, seperti file sharing, databse software perusahaan dan yang lainnya.
  • Dilindungi oleh proxy dan firewall.


Internet

  • Network global dari perangkat jaringan yang saling terhubung.
  • Tidak dikendalikan oleh organisasi manapun.
  • Network bergantung pada protokol untuk mengirim informasi.


Extranet

  • Ekstensi dari intranet.
  • Mengizinkan organisasi yang membuat extranet untuk berbagi resource di luar intranet.
  • Dibuat oleh organisasi yang membuatnya (ya iya lahh).

Optimasi Network

  • Load Balancing
    • Distribusi permintaan di seluruh perangkat.
    • Digunakan untuk meringankan beban load.
  • Bandwidth
    • Adalah kecepatan dari network.
    • Jika kecepatannya 10 MB/detik maka bandwidth adalah 10MB.
  • Latency
    • Adalah waktu delay ketika data sedang dikirim (contohnya 1ms = milisecond).
  • Compression
    • Menyusutkan sebuah file.
    • Zip dan Rar adalah format kompresi paling umum.
  • Caching
    • Mengizinkan untuk menyimpan di storage untuk data yang sering diakses.
    • Server biasanya mempunyai cash (idk what it means by cash, mungkin semacam cache dan sejenisnya) yang mengizinkan sebuah penyimpanan sementara dari file intenet untuk pemanggilan ulang yang cepat.

Port dan Protocol Network
Port-port umum

  • 20 & 21 TCP = File Transfer Protocol (FTP)
  • 23 TCP = Telnet (melakukan remote akses ke komputer dengan command prompt)
  • 22 TCP = Secure Shell (SSH) (sama dengan telnet namun lebih secure)
  • 25 TCP = Simple Mail Transfer Protocol (SMTP)
  • 53 TCP & UDP = Domain Name Server (DNS)
  • 67 & 68 UDP = Dynamic Host Control Protocol (DHCP)
  • 69 UDP = Trivial File Transfer Protocol (TFTP)
  • 80 TCP = Hypertext Transfer Protocol (HTTP)
  • 110 TCP = Post Office Protocol (POP3)
  • 119 TCP = Network News Transport Protocol (NNTP)
  • 123 UDP = Network Time Protocol (NTP)
  • 143 TCP & UDP = Internet Message Access Protocol (IMAP)
  • 161 & 162 TCP & UDP = Simple Network Management Protocol (SNMP)
  • 398 TCP & UDP = Lightweight Dircetory Access Protocol (LDAP)
  • 443 TCP & UDP = Hypertext Transfer Protocol Secure (HTTPS)
  • 3389 TCP & UDP = Remote Desktop Connection (RDP)

Routing dan Switching
  • Network Address Translation (NAT)
    • Mengizinkan network untuk berbagi sebuah IP ke internet.
  • Post Address Translation (PAT)
    • Menyediakan mapping/pemetaan dari banyak perangkat internal melalui satu alamat IP internal.
  • Virtual LAN (VLAN)
    • Membuat pembedaan secara logical (sistem) pada perangkat fisik network. Jadi sebuah perangkat fisik network (switch) dapat dibuat menjadi beberapa kelompok LAN yang berbeda.
    • VLAN biasanya dibuat di switch.
  • Routing Tables
    • Tabel yang tersimpan di router.
    • Digunakan untuk melakukan route paket.
    • Berisi informasi jaringan internal dan lompatan selanjutnya (dalam artian, kemana paket dikirim jika ke luar).

Phew~
Cukup banyak juga ya materi jaringan ini. Tapi tenang saja, ini masih yang dasar. Kita tidak perlu belajar subnetting haha (mungkin). Pengetahuan di atas berguna bagi calon Cloud Administrator untuk mengetahui beberapa hal yang tercantum di atas. Meliputi pembangunan infrastruktur cloud, jaringan dan troubleshooting-nya.


Seperti biasa jika ada kesalahan maka mohon koreksi saya di kolom komentar di bawah. Maklum, saya bukan cloud admin dan hanya seseorang yang menghabiskan waktu dengan belajar (cailah). Daripada main game terus yekan (ketahuan suka main game (dulu)). Juga jika kalian ingin komentar, silahkan kirim komentar kalian di kolom komentar di bawah. Hmm, sepertinya materi kita selanjutnya akan lebih seru nih, langsung berhubungan dengan cloud. Oleh karena itu, keep-in-touch dengan blog saya ini yaa hehe. In syaa Allah saya akan tulis sampai materi terakhir. Sampai jumpaa~

Rabu, 25 Januari 2017

CompTIA Cloud+ Bagian 2 - Storage Device Configuration, RAID dan File System

Kali ini saya akan membagikan catatan saya tentang konfigurasi perangkat storage untuk cloud. Pembahasannya mencakup tipe drive, tipe interface, level performa dan RAID. Untuk lebih jelasnya silahkan kalian googling lebih lanjut terutama untuk mencari gambar sesuai pembahasan, karena saya tidak mau terlalu repot mengurus pengumpulan gambar sesuai pembahasan yang bebas digunakan tanpa meminta izin haha. Langsung saja kita masuk ke pembahasan yang pertama, yaitu tipe disk dan konfigurasinya.


Disk Types and Configurations
Beberapa tipe disk dan konfigurasinya adalah:
  • Removable media
  • Interface types
  • Access speed
  • Solid State Drive (SSD)
  • USB drive
  • Tapes

Removable Media
Beberapa media yang dapat dicabut-pasang dengan mudah yaitu:
  • Disks (CD/DVD dan jenis disk lainnya)
  • Floppy disk
  • USB drive
  • Dapat dikunci sehingga tidak lagi "removable"

Interface Types
Tipe interface (atau port penghubung) diantaranya adalah:
  • Advanced Technology Attachment (ATA)
  • Integrated  Drive Electronics (IDE)
  • Serial ATA (SATA)
  • Serial Attached SCSI (SAS)
  • Small Computer System Interfaces (SCSI) (bagaimana motherboard berkomunikasi dengan hard drive)

Access Speed
Pembagian kecepatan d:
  • Kecepatan hard disk
  • Latency (seberapa pelan sesuatu itu)
  • Waktu akses (seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengakses tersebut)

Solid State Drive
  • Tidak berisi sesuatu yang bergerak seperti cakram/disk yang ada pada hard disk.
  • Merupakan tipe penyimpanan yang mempunyai performa yang tinggi.

USB Drive
  • Tipe penyimpanan yang colok-dan-mainkan atau plug-and-play.
  • Diberikan huruf drive (drive letter seperti C: D: E:) pada Windows.
  • Diberikan tenaga/listrik oleh port USB jika hanya membutuhkan sedikit tenaga.
  • Membutuhkan colokan listrik eksternal untuk hard drive yang lebih besar.
  • Merupakan pilihan yang terbaik untuk penyimpanan sementara.

Tape
  • Membutuhkan perangkat untuk membaca magnetic tape.
  • Digunakan terutama untuk backup data.
  • Maksudnya adalah untuk membackup secara bulanan maupun tahunan.
  • Namun memiliki kecepatan pencarian data yang lama.
  • Digunakan untuk penyimpanan off-site.

Level Performa untuk Setiap Tingkat/Tier
  1. Tier 1 - Tugas penting
    • Performa, kapasitas, keandalan dan kemudahan pengaturan
  2. Tier 2 - Applikasi bisnis umum
    • Harus cukup cepat
  3. Tier 3 - Data Finansial
    • Tidak diakses terlalu sering, tak terlalu mahal
  4. Tier 4 - Menyimpan email atau data untuk periode yang lama
    • Data yang besar, dapat menjadi lebih lambat dibanding yang lain.
Kebijakan
  • Digunakan untuk memasukan data ke setiap tier/tingkat
  • Kebijakan untuk melakukan migrasi diantara tier
  • Menyediakan panduan untuk mengatur organisasi data
  • Services License Agreement (SLA)



Redundant Array of Independent Disk (RAID)
Bahan Bacaan:
https://en.wikipedia.org/wiki/RAID
https://en.wikipedia.org/wiki/Standard_RAID_levels
http://www.thegeekstuff.com/2010/08/raid-levels-tutorial

RAID adalah teknik virtualisasi data storage yang menggabungkan beberapa hard disk menjadi satu kesatuan logic untuk tujuan data redundansi, peningkatan performa atau keduanya. Perlu diingat bahwa, ukuran dan kecepatan dari RAID bergantung pada ukuran drive paling kecil dan kecepatan paling lambat dari drive yang dipasang. 
  • RAID 0
Pada RAID 0,  data disebar ke dua atau lebih disk secara merata, atau disebut striping. Contohnya jika menggunakan dua disk, maka disk pertama akan mendapatkan blok data A1 dan disk ke dua mendapatkan blok data A2. Sehingga performa dalam hal ini kecepatan untuk membaca dan menulis akan lebih cepat. Namun karena RAID 0 tidak melakukan duplikasi data (redundansi seperti mirroring atau parity), maka jika ada sebuah drive yang rusak akan mengakibatkan seluruh array rusak dan mengakibatkan hilangnya data. Jadi jangan menggunakan RAID 0 di data/sistem yang penting.
  • RAID 1
RAID 1 melakukan penyalinan secara sempurna, yang disebut sebagai mirroring. Blok data A1 disimpan ke disk 1 dan disk 2 (juga disk selanjutnya jika lebih dari dua disk). Sehingga RAID 1 ini bisa juga disebut sebagai backup data jika satu drive rusak maka data masih tersimpan di drive yang lain.
  • RAID 0 + 1, atau 1 + 0 atau 10
RAID 0 + 1 merupakan gabungan antara RAID 0 dan RAID 1. Melakukan striping terlebih dahulu kemudian mirroring. Sehingga dibutuhkan 4 drive minimal untuk melakukan RAID tipe ini. Dalam RAID tipe ini didapatkan 2 target utama yaitu performa dan redundansi/backup. Namun RAID ini cukup mahal karena size dari total penyimpanan hanya setengah dari 4 disk atau sama dengan size RAID 0, tapi dengan melakukan backup terhadap RAID 0.
  • RAID 5
RAID 5 merupakan tipe RAID yang paling banyak digunakan oleh perusahaan karena opsi paling efektif dalam hal biaya. Untuk melakukan RAID tipe 5 ini, dibutuhkan minimal 3 disk. RAID 5 melakukan striping dan parity. Parity adalah eksklusif OR (XOR) dari setiap bit dari semua drive. Parity mendistribusikan bit XOR ke setiap drive. Sederhananya, parity melakukan backup dari semua drive yang bisa digunakan dengan mengorbankan ukuran 1 drive untuk menyimpan data XOR dari semua drive yang dimana data bit XOR tersebut terdistribusi ke semua drive (sepertinya tidak lebih sederhana penjelasannya). Sederhananya, (lagi?) seperti melakukan RAID 0 namun dengan redundansi jika sebuah drive rusak masih bisa diatasi (nahh). Jika kita menggunakan RAID 5 dengan 3 disk, kita mempunyai RAID yang melakukan striping dengan size 2 disk dan total size 1 disk parity yang tersebar ke disk 1 2 dan 3. Jika ada sebuah drive yang rusak, kita bisa melakukan backup dengan mengambil informasi XOR yang tersebar ke semua drive. Oh ya, RAID 5 ini hanya bisa melakukan backup jika maksimal 1 drive yang rusak, jika lebih? Wassalam.
A-B-C
0-1-1
0-0-0
1-1-0
1-0-1
Lihat pada ABC di atas. Kita anggap C adalah parity dari drive A dan B. Ketentuan eksklusif OR adalah, menghasilkan output true jika inputnya berbeda (yang satu true dan yang satu lagi false). Sekarang coba kita sebarkan parity ke semua drive dengan urutan dari belakang ke depan.
A-B-C
0-1-1(p)
0-0(p)-0
0(p)-1-1
1-0-1(p)
Selanjutnya, jika drive B tiba-tiba saja rusak, apakah kita bisa menebak nilai bit yang ada di drive B? Jawabannya bisa dengan XOR.
A-C
0-1(p)
0-0
0(p)-1
1-1(p)
Pada baris pertama, bit di drive A adalah 0 dan nilai XORnya adalah 1. Masih ingatkah kalian jika XOR bernilai true maka 2 input sebelumnya harus bernilai berbeda. Jadi jika A bernilai bit 0 maka pasti B bernilai bit 1. Selanjutnya bit 0 dan 0 jadi XORnya 0. XOR 0 bit 1 jadi yang hilang adalah bit 1. Terakhir bit 1 XOR 1 jadi yang hilang adalah bit 0. Phew, kuharap kau mengerti :')

  • RAID 6
RAID 6 sama dengan RAID 5 namun membutuhkan minimal 4 drive. Konsepnya kurang lebih sama (yaitu membuat 2 buah parity dan menyebarkannya ke semua drive) hanya perbedaan algoritma dalam penyusunannya. Juga RAID 6 menambah sebuah blok parity menjadi total 2 blok. Kelebihannya, maksimal drive yang rusak untuk dibackup lebih dari RAID 5 yaitu 2 drive.



Ukuran Byte dan Tipe File System

Ukuran Byte
Pengelompokan byte terbagi ke beberapa macam berdasarkan ukuran/banyaknya. Sebagiannya ada yang kita kenal dan sebagian yang lain mungkin belum pernah kita dengar karena ukuran file saat ini masih terlalu sedikit dibanding penyebutan ukuran yang besar. Berikut daftar pengelompokannya:
  • 1024 byte = 1 Kilo Byte
  • 1024 KB = 1 Mega Byte
  • 1024 MB = 1 Giga Byte
  • 1024 GB = 1 Tera Byte
  • 1024 TB = 1 Peta Byte
  • 1024 PB = 1 Exa Byte
  • 1024 EB = 1 Zetta Byte
  • 1024 ZB = 1 Yotta Byte/YB


Unix File System
  • File system utama untuk OS berbasis Unix.
  • Menggunakan file struktur hirarkis.
  • Adminstratornya dinamai root.
  • Volume maksimal 1 YB, ukuran file maksimal 32 PB dan tidak ada enkripsi.

New Technology File System (NTFS)
  • Dibuat oleh Microsoft.
  • Memiliki fitur-fitur diantaranya:
    • Kompresi
    • Volume Shadow Copy Service (VSS)
    • Encripting File System (EFS)
    • Kuota
  • Volume maksimal 256 TB, ukuran file maksimal 16 TB dan dengan enkripsi.

File Allocation Table (FAT)

  • Menggunakan file system legacy.
  • Digunakan umumnya untuk media yang removable.
  • Tidak memiliki fitur untuk permission (izin) dan enkripsi.
  • Volume maksimal yaitu 2 TB dan maksimal ukuran file 4GB, dan tanpa enkripsi juga.


Virtual Machine File System (VMFS)

  • Digunakan untuk server ESX VMWare dan vSphere.
  • Menyimpan image disk dan snapshot di file.
  • Mengizinkan server untuk read dan write secara bersama.
  • Volume maksimal 64 TB, file maksimal 2TB, tanpa enkripsi.

Z File System

  • Dibuat oleh Sun Microsystems, anaknya Oracle.
  • Memiliki pengaturan file system dan logical volume.
  • Melindung terhadap data corruption.
  • Mendukung kapasitas storage yang tinggi.
  • Volume maksimal 16 EB, file maksimal 16 EB dan tanpa enkripsi.

Extended File System (Ext)

  • File system pertama khusus untuk linux.
  • Berbasis Unix file system.
  • File system bawaan untuk kebanyakan distribusi linux.
  • Versi Ext yaitu Ext2, Ext3 dan Ext4.
  • Volume maksimal 1 YB, file maksimal 32 PB dan tanpa enkripsi.


Ada cukup banyak yang perlu kita ketahui dalam konfigurasi perangkat storage, file system dan RAID untuk cloud yang sedang/akan kita kelola. Oleh karena itu jika anda memang membutuhkan ilmu tentang cloud ini, jangan malas untuk browsing lebih banyak untuk mencari penerangan di jalan yang anda lihat gelap untuk dilalui. Jika anda mau, anda juga bisa mengikuti course CompTIA Cloud+ di Cybrary.it yang saya ikuti. Linknya ada di bawah ini yaa:

https://www.cybrary.it/course/comptia-cloud-plus/

Oh ya, jika ada pertanyaan atau koreksi dari post saya ini, jangan ragu untuk tinggalkan komentar yaa!
Terima kasih :)

Selasa, 24 Januari 2017

CompTIA Cloud+ Bagian 1 - Network Storage Types and Configuration

Dalam dunia per-cloud-an (maksa), tentu dibutuhkan penyimpanan atau storage yang besar dan cepat.  Karena secara sederhana, Cloud Computing bermakna menyimpan dan mengakses aplikasi dan data yang kita miliki melalui internet. Sehingga aplikasi dan data yang kita simpan di Cloud (atau internet) dapat kita akses dimana saja dan kapan saja, selama ada internet dan perangkat pendukung tentunya.

Dari pengertian tersebut, kita kembali ke kalimat awal, bahwa dibutuhkan storage yang besar dan akses yang cepat ke storage tersebut. Agar apa yang kita miliki di Cloud dapat diakses dengan cepat. Nah, inilah tahapan pertama kita dalam pembahasan CompTIA Cloud+. Yaitu pengenalan tipe penyimpanan yang terhubung ke jaringan dan konfigurasinya. Atau bahasa kerennya, network storage types and configuration.

Tipe Storage Jaringan dan Langsung
Ada 2 tipe storage jaringan, mereka adalah:

  1. Network Attached Storage (NAS)
    • Adalah sebuah server yang terhubung ke jaringan, contohnya (atau, yaitu) file server.
    • NAS ini lebih murah (dalam implementasinya) dibanding SAN (lihat tipe selanjutya).
    • NAS dapat diimplementasikan dengan infrastruktur saat ini, yang artinya dapat dengan mudah kita implementasikan dengan infrastruktur komputer dan jaringan yang banyak terpakai di dunia, tanpa perlu merombak keseluruhan jaringan.
    • Memberikan bagi-bagi storage melalui jaringan. Artinya, storage itu dapat digunakan bersama-sama dengan perantara jaringan.
    • Namun, NAS ini tipe dengan performa yang paling rendah.
  2. Storage Area Network (SAN)
    • SAN dapat membagi akses ke storage melalui LAN.
    • Namun SAN ini membutuhkan biaya yang mahal, spesifikasi hardware tertentu serta membutuhkan keahlian, contohnya:
      • HBA - Host Bus Adapter, yaitu port untuk terhubung ke hard drive.
      • Membutuhkan switch khusus SAN.
      • Juga membutukan hardware dan software spesifik.
    • Konfigurasi SAN membutuhkan waktu untuk melakukan pengaturan-pengaturannya.
    • NAS menganut faham block level storage, yaitu storage yang membuat volume raw yang setiap bloknya dapat dikendalikan seperti sebuah hard drive. Blok-blok tersebut dikendalikan oleh server dan setiap bloknya dapat diformat dengan berbeda sesuai kebutuhan.
    • Di atas itu semua, SAN memiliki performa yang paling tinggi dibanding yang lain.
Direct Attached Storage
  • Berbeda dengan kedua storage jaringan di atas, DAS ini langsung terhubung ke perangkat lokal.
  • DAS digunakan pada laptop, desktop dan beberapa server.
  • Protokol yang digunakan DAS ada 3, yaitu:
    • Integrated Development Environment (IDE)
    • Serial Advanced Technology Attachment (SATA)
    • Small Computer System Interface (SCSI)


Akses dan Protokol
Ada beberapa akses dan protokol yang digunakan dalam Cloud, diantaranya:
  • Ethernet
  • Fibre Channel (FC)
  • Internet Protocol (IP)
  • Internet Small Computer System Interface (iSCSI)
  • Fiber Channel Protocol
  • Fiber Channel Over Ethernet (FCOE)
Ethernet
  • Paling banyak digunakan pada jaringan.
  • Mudah dan murah dalam implementasinya.
  • Tidak lebih cepat dibanding FC (fiber).
  • Terbatas dalam jarak penggunaan.
  • Memiliki potensi untuk menggunakan 10Gbps ethernet.
  • Membutuhkan skema pengkabelan spesifik (T568A dan T568B, atau straight dan cross).
Fibre Channel (FC)
  • Umumnya digunakan dalam jaringan 10Gbps dan jaringan WAN.
  • Menghubungkan server ke storage.
  • Topologi yang digunakan:
    • Point-to-point
    • Arbitrated Loop
    • Switched Fabric
  • Dapat digunakan dengan jarak yang jauh.
Internet Protocol (IP)
  • Beroperasi pada layer internet pada model TCP/IP.
  • Menyediakan routing trafik.
  • Memiliki protokol unacknowledged dan connectionless seperti UDP. Unacknowledged artinya dapat terhubung tanpa mengetahui "siapa" tujuannya atau tanpa adanya respon bahwa data telah diterima. Sedangkan connectionless artinya data dikirimkan tanpa membuat sambungan (dengan handshake). Logika sederhananya seperti orang yang melempar paket ke arah belakang. Dia hanya tahu bahwa arahnya melempar yaitu ke belakang, tapi tidak tahu apakah paketnya sudah diterima atau belum. Sehingga dia dapat mengirimkan paket-paket tersebut lebih cepat dibanding orang yang harus melakukan pengecekan setiap kali paket dikirim.
  • Menggunakan notasi angka desimal bertitik atau heksadesimal.
    • Contohnya: IPv4: 192.168.1.1
    • IPv6: FE80:0000:0000:0012:ABCD:EF98:1175:DE43
Internet Small Computer System Interface (iSCSI)
  • Mengirimkan paket melalui perintah SCSI melalui jaringan IP.
Fibre Channel Protocol
  • Menggunakan dasar Fibre Channel.
  • Mengirimkan command SCSI.
  • Memanfaatkan hardware untuk mengirim paket.
Fibre Channel Over Ethernet (FCOE)
  • Menggunakan ethernet dan bukan fibre channel.
  • Digunakan untuk mengirimkan command SCSI.
  • Lebih murah dibanding fibre.
  • Menggunakan 10Gbps ethernet.

Storage Preparation and Accessing
Akses ke storage dan persiapan untuk melakukan akses tersebut.
  • Network shares
  • Multipathing
  • Logical Unit (LUNs)
  • Zoning dan LUN Masking
Network Shares
  • Storage tersedia di seluruh LAN.
  • Tampil di PC lokal sebagai drive.
  • Menggunakan protokol SMB untuk windows.
  • Menggunakan protokol NFS untuk linux.
Multipathing
  • Toleransi terhadap kesalahan.
  • Membangun beberapa jalan.
  • Menggunakan beberapa NIC atau beberapa HBA.
  • Multiple berarti mendapatkan resource/sumber.
  • Beberapa NIC untuk koneksi atau HBA dari PC
Logical Unit (LUNs)
  • Beroperasi sebagai identifikasi unik.
  • Merupakan hard disk virtual dari sebuah blok penyimpanan yang dialokasikan dalam NAS atau SAN.
  • Perangkat yang meminta informasi disebut initiators.
  • Perangkat yang melakukan permintaan disebut target.
Zoning dan LUN Masking
  • Zoning membuat kita dapat mengisolasi  sebuah server kepada sekelompok perangkat storage atau sebuah perangkat storage.
  • Zoning diimplementasikan pada level hardware.
  • LUN masking mengizinkan sebuah LUN tersedia untuk beberapa host dan tidak tersedia untuk beberapa host yang lain.
  • LUN masking memberikan keamanan yang lebih detail daripada zoning.

Demikianlah sedikit rangkuman saya mengenai tipe storage jaringan dan konfigurasinya untuk cloud yang saya pelajari dari materi CompTIA Cloud+. Jika kalian ingin belajar CompTIA Cloud+ juga, kalian bisa register di Cybrary.it dan menuju ke link berikut ini:

https://www.cybrary.it/course/comptia-cloud-plus/

Perlu diperhatikan dari setiap post saya bahwa mungkin ada suatu informasi yang salah berkaitan dengan materi yang saya bahas. Hal itu karena saya sedang belajar dan orang yang belajar tentu saja dapat melakukan kesalahan. Oleh karena itu, jika kalian menemukan suatu hal yang salah dari pembahasan saya di atas, tolong koreksi saya dengan memberikan komentar di bawah yaa.

Terima kasih dan tunggu pembahasan CompTIA Cloud+ berikutnya yaa :)